Tiga Tjeret, Cafedangan Populer di Solo

Ada terminologi baru yang terserap selama seminggu ini di Solo. Cafedangan.

 

image

Awalnya diperkenalkan dengan istilah angkringan, saat aku menyempatkan diri makan malam di Solo. Kala itu, perjalanan panjang solo touring dari Bandung ke Madura dan kembali ke Bandung mengambil jalur balik via selatan Jawa. Pagi hari dari Kawasan Wisata Sunan Ampel di Surabaya, aku sempat mengambil gambar mesjid kecil di Mangkunegaran Solo. Saat itulah seorang jemaah mesjid merekomendasikan makan malam di sebuah angkringan. Angkringan itu warung makan sederhana tapi lengkap dan terhitung sangat murah. Mulai dari yang satu gerobak kecil, hingga memiliki ruang bangunan khusus. Orang Solo biasa menyebut angkringan ini dengan istilah wedangan.

 

image

Berbeda dengan warteg, dimana warteg lebih menyerupai rumah makan namun lebih kecil dan mendapatkan layanan semi swalayan, wedangan lebih mirip gerobak makan dengan tempat duduk lesehan di trotoar atau tempat khusus di meja di tepi gerobaknya, atau ruang khusus ala cafe. Aslinya, aku yakin banget kalau wedangan berawal dari bentuk gerobak, bahkan lebih sederhana lagi. Sekarang, dengan konsep yang tetap dijaga kekhasannya, dan ditopang permodalan lebih kokoh, maka cafe di Solo pun mengadopsi kebiasaan yang asyik ini. Jadilah cafe berkonsep wedangan. Orang di sekitar sini mengeluarkan term baru, cafedangan. Cafe ala wedangan.

 

image

Salah satu cafedangan yang terhitung happening di Solo ialah Tiga Tjeret. Tidak seperti angkringan Wedang Gandul yang asyiknya karena duduk seperti orang-orang di Itali sana yang merapat dalam satu tempat duduk memanjang, cafedangan memberikan tempat duduk dan ruang terpisah dengan meja masing-masing. Bayangkanlah sebuah cafe. Itu saja menurutku bedanya, selain tetap mematok harga yang gak begitu jauh berbeda. Tiga Tjeret punya nuansa cafedangan yang ideal buat wisatawan dan night crawlers di Solo.

 

image

Jenis makanan cafedangan merenggut konsep sama dengan wedangan atau angkringan; sate usus, sate jeroan, sate seafood, sate telur, sate sosis, sate crab meat, sate lobster, tempe bacem, daging-dagingan, jajanan pasar seperti kue pasar dan gorengan tahu, tempe, dan lainnya. Minumannya mulai dari wedangan (mimuman panas) sampai minuman es dan menu minuman lainnya. Asyiknya, sekelompok anak muda yang baru menerjunkan diri di dunia musik komersial cafean menemani setiap hisapan rokok dan nikmat hangat jeruk panas yang menenangkan. Yang satu ini, aku secara pribadi, merekomendasikan.

 

image

Lokasi Tiga Tjeret ada di pusat kota, sangat dekat dengan Kompleks Mangkunegaran. Kalau tidur di kitaran Hotel Novotel atau Ibis Hotel, pakai saja taksi, dan dalàm 5 menit, tempat asyik ini sudah di hadapan. Bawa mobil sendiri? Tanya saja orang sekitar pasti tahu, atau lihat di Waze dan Foursquare, dimana foto-foto netters memenuhi page-nya jauh dibanding cafe lain di Solo. Parkir agak sulit karena setiap orang sepertinya menuju ke sini di malam hari.

 

Advertisements

Pasir Badot Family Campsite

Ada satu tempat yang keren banget, jauh dari macet, jauh dari polusi.

Tempat ini deket sama Danau Saguling, ke arah Air Terjun Malela. Tapi jangan takut, kalo Air Terjun atau Curug Malela itu kan jauh banget. Kalo Pasir Badot ini paling setengah jalan. Gak jauh dari Cililin. Tempatnya udah dilengkapi rumah guesthouse yang lumayan banget okenya. Air bersih tersedia melimpah di kamar mandi sharing atau di dalam guesthouse. Buat shalat, ada mesjid yang bersih banget. Listrik buat charging gadget pun tinggal colok. Pokoknya lengkap. Parkir luas di lapangan bola, atau di bawah pohon jati.

Letaknya pas di kaki Bukit Pasir Badot dan Pasir Angin. Tetangga juga gak jauh amat, jadi aman untuk para campers, tanpa harus mengganggu lingkungan.

Pagi-pagi bener-bener magical. Jam 06.00 meluncur ke tepi danau yang jaraknya cuma 1 atau 2 kilometer, dengan jalan kaki atau pake kendaraan. Dari tepi danau, akan terlihat pemandangan sunrise yang spektakuler. Orange yang tak biasa. Coklat bukan, kuning pun bukan. Siluet pemandangan sawah dan kebun jadi foreground yang keren banget.

Sejak TK kami udah sering ke sini. Sampe sekarang, suasana gak terlalu banyak berubah. So, coba keaslian alam di sini.

Membangun negeri
Dari sini
Kampung halaman sendiri – with Devi

View on Path

Menstruasi? Ke Komodo Aja.

Selama ini berseliweran stigma negatif tentang Komodo, kadal besar yang juga disebut ‘buaya darat’ dalam pemahaman zoologi, dan juga orang setempat menyebutnya ‘ora’. Dalam benak kita, Komodo selalunya dikaitkan dengan keganasan dan kagresifan dinosaurus, T-Rex, atau sederhananya anjing galak. Semua itu salah, tapi bukan berarti Komodo itu lucu juga seperti hamster.

Ranger senior di Loh Buaya, Pulau Rinca dan juga di Loh Liang, Pulau Komodo menyebutkan bahwa tak masalah wanita yang sedang menstruasi berada di Taman Nasional Komodo dan melakukan trip kesana.

Memang, selayaknya wanita yang sedang menstruasi melaporkan kondisi spesialnya itu kepada para ranger yang bertugas, agar mereka tahu apa yang harus diperhatikan di dalam kelompok tour-nya. Biasanya wanita menstruasi ditempatkan di tengah-tengah kelompok dan dilarang terlalu penasaran untuk mendekat terlalu akrab dengan seekor komodo yang perutnya keroncongan.

Logikanya, Komodo sudah berada di pulau-pulau ini sejak lama, selama warga desa yang hidup di desa Komodo. Tak mungkin wanita di desa itu melewatkan periode terpenting dalam hidupnya, menstruasi. Buktinya hingga kini mereka (para wanita desa Komodo, bukan kadal besarnya) hidup dan beranak pinak. Perjalanan ke Komodo pun jauh sekali dan juga sangat tidak murah. Bayangkan saat tiba di Labuan Bajo, kota terdekat ke Taman Nasional Komodo, ternyata istri Anda datang bulan, dan didakwa sebagai manusia yang harus menjauh dari salah satu pulau terindah. Pasti liburan itu menjadi episode terburuk, karena Anda mungkin akan pulang dan menghadapi biawak yang kesal sepanjang jalan, melihat suaminya asyik sendiri trekking di Pulau Rinca.

Jadi, Ibu-ibu atau Anda para wanita petualang, jangan takut untuk berada di Taman Nasional Komodo, walau pun saat Anda menstruasi.

Angke