Hype Luncheon – Makan Siang Bergaya di Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo

Abamowel udah kecapean. Dia langsung melipir ke Ibis.

Masalahnya, aku belum makan siang dan kondisi badan bakal drop kalo makan siang di-skip lagi. So, kaki terus dilanjut ke sebuah gedung heritage yang nampak sedikit mewah. Tentu. Ternyata gedung ini ialah Museum Batik Kuno Danar Hadi. Langsung aku mengarah ke sebuah sudut yang agak ramai dengan x-banner. Bener aja. Sebuah kafe atau restoran.

Saat masuk, suasananya beda. Bukan resto biasa. Yang duduk di sana sepertinya mereka yang sudah sangat nyaman dengan hidup, umur separuh baya atau sudah senior. Gayanya sudah lain sama angkringan. So, aku tanya waiter, “Dimana smoking area, Mas?”

Dia menunjukkan sebuah ruangan terbuka di tepi resto dengan sopan. Di sana semua penat, dan lapar terbayar. Mahal banget. Tapi enak. Iga bakar dan es kelapa muda dalam gelas tinggi benar-benar statement, “ini gak biasa, Mas.”

Mengguyur dahaga ala museum batik Solo. – at Museum Batik Kuno Danar Hadi

View on Path

Advertisements

Roemah Tungku

Letaknya di penghujung Jl. Abdul Rifai, sebelum masuk ke perempatan Otten. So, kalau sekiranya ada atau mau menyusuri kawasan Jl. Wastukancana, Jl. Padjadjaran, atau Jl. Pasir Kaliki, boleh lah mampir makan di sini.

20140709192451_IMG_9465_1

Tempat ini punya kapasitas parkir gak begitu banyak. Tadi agak susah untuk parkir karena sekitar 10 mobil sudah menempati space yang tepat di depan pintu masuk resto ini. Tapi kalau sudah ada di dalam, tempat duduk untuk dua orang semeja cukup banyak. Lalu empat orang semeja pun gak kurang dari 8 meja di area depan. Belum lagi di area tengah yang bisa mengakomodir 8 orang per meja ada 2 meja dan di belakang, diciptakan untuk pasangan yang ingin menikmati makanan dan minuman dalam suasana rumah.

20140709182711_IMG_9374_1 20140709182939_IMG_9379_1

Interior resto ini dihiasi furniture rumahan yang apik disusun menjadi sebuah tatanan resto yang homey. Dindingnya membuat mata pengunjung agak lama terpaku, dipaksa menyusuri setiap tulisan-tulisan berhias grafik desain klasik retro ala gaya produk tahun 70-an. Belum lagi pas kita masuk, asesoris ruangan diperkaya oleh barang-barang bernuansa kuliner seperti teko dan kotak kerupuk lama. Apik dan unik lah.

20140709192335_IMG_9461_1 20140709192328_IMG_9460_1

Nama Roemah Tungku agak rancu sebenarnya karena saat masuk resto ini, belum ada satu elemen yang menegaskan bahwa nama tersebut patut disandang tempat ini.  Makanya, pas lihat menu, langsung aja saya cari makanan yang kira-kira memanfaatkan kehebatan olahan sebuah tungku.

Pizza. Apalagi kalau bukan makanan khas Italia ini yang disiapkan dengan tungku. Oke, saya pesan satu dan mencoba sausage pizza dengan butiran jagung dan lembaran paprika merah dan hijau di atasnya. Mozzarella  yang meleleh pun nampaknya bisa bikin nagih. Adonan dough yang tipis menjadi kekhasan pizza buatan resto yang tidak seperti layanan pizza dari franchiser luaran. Anak-anak mencobanya dan mereka suka banget.

20140709184154_IMG_9400_1

Untuk menu lainnya, saya coba nasi goreng cikur. Kirain bakal disajikan nasi goreng plus lalapan saja, tapi ternyata ada lalapan dan juga daging ayam lengkap dengan tempe tahu dan acar serta kerupuk, persis seperti nasi timbel. Rasanya enak banget, dan cikurnya kerasa.

Belum lagi menu asyik satu ini. Iga Sambal ijo. Iganya empuk, disediakan dalam dua potong yang cukup bikin kenyang. Kuah dipisahkan dalam mangkuk terpisah. Gurih banget, karena di dalamnya banyak bawang daun dan tentunya kaldu sapi yang gak terlalu kental.

20140709184817_IMG_9414_1 20140709185142_IMG_9421_1 20140709191140_IMG_9428_1 20140709191147_IMG_9438_1

Santapan buka puasa di Roemah Tungku ini tambah dahsyat dengan ditemani anak-anak yang suasana hatinya terlihat seneng banget. Lampu langit-langit yang bergelantungan dalam satu kumpulan bikin siapa pun merasa nyaman, seperti di rumah sendiri.

Minuman iced coffee cremebrule cukup menawarkan rasa gurih di mulut dengan rasa pahit kopi yang menyegarkan. Ada juga mocktail Biru Moeda yang segar menggigit di pojok-pojok lidah yang bisa dijadiin alternatif minuman untuk penawar rasa pedas dari sambal ijo iga yang lumayan kuat. Patut dicoba lah, apalagi kalau isi dompet bisa dikeluarkan sekira Rp 60,000 per orang. Beli rasa dan suasana sih, pada intinya.

20140709182636_IMG_9373_1 20140709183705_IMG_9393_1 20140709183813_IMG_9396_1