Hype Luncheon – Makan Siang Bergaya di Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo

Abamowel udah kecapean. Dia langsung melipir ke Ibis.

Masalahnya, aku belum makan siang dan kondisi badan bakal drop kalo makan siang di-skip lagi. So, kaki terus dilanjut ke sebuah gedung heritage yang nampak sedikit mewah. Tentu. Ternyata gedung ini ialah Museum Batik Kuno Danar Hadi. Langsung aku mengarah ke sebuah sudut yang agak ramai dengan x-banner. Bener aja. Sebuah kafe atau restoran.

Saat masuk, suasananya beda. Bukan resto biasa. Yang duduk di sana sepertinya mereka yang sudah sangat nyaman dengan hidup, umur separuh baya atau sudah senior. Gayanya sudah lain sama angkringan. So, aku tanya waiter, “Dimana smoking area, Mas?”

Dia menunjukkan sebuah ruangan terbuka di tepi resto dengan sopan. Di sana semua penat, dan lapar terbayar. Mahal banget. Tapi enak. Iga bakar dan es kelapa muda dalam gelas tinggi benar-benar statement, “ini gak biasa, Mas.”

Mengguyur dahaga ala museum batik Solo. – at Museum Batik Kuno Danar Hadi

View on Path

Becak, Sate Kere, dan Kota Solo

Sebelum matahari redup di balik jalanan Kota Solo yang sedikit membuatku pening, Pulsar 200 yang legam kugiring ke tepi jalan untuk menemukan kendali orientasi geo-lokasiku yang sedikit campur aduk akibat perjalanan panjang hari itu langsung dari Surabaya. Di tepi jalan itulah aku berjumpa Pak Ma’mun, penarik becak yang sudah sekitar 34 tahun menggoes pedal becak sewaannya. Badannya cukup subur untuk seorang tukang becak yang bertahan hidup selama itu dengan tak memiliki sumber penghasilan lain, kecuali ‘ngebecak’. Uangnya ia kucurkan hanya untuk menghidupi satu istri dan 3 anaknya yang semuanya sudah sukses, dari hasil genjotannya dari tahun 1977.

Ia tiba-tiba tertarik untuk berhenti di dekatku saat kuarahkan kamera ke becaknya. Disinilah kami bertukar sapa dan bercerita pengalaman sehari kami masing-masing. Sambil duduk di tepi jalan di bawah pohon yang meneduhkan, aku traktir Pak Ma’mun dengan seporsi sate kere khas Solo hasil racikan Mas Suratin yang juga ikut nimbrung saat kami berbincang. Mas Suratin memperlihatkan keahlian racikannya dari pengalaman berjualan sate kere selama 11 tahun.

Pak Ma’mun mengeluhkan kemunduran usaha jasa penarikan becak yang semakin hari semakin disempitkan oleh maraknya taksi dan angkot yang memadati Kota Solo yang asri. Ojek pun sekarang sudah ramai dan memakai handphone untuk jasa panggilan. Tapi ia cukup bangga karena si sulung sudah menjadi Sarjana Agama, anak ke-2 nya jadi Sarjana Teknik yang jadi guru di SMK 4 Semarang, dan si bungsu masih di SMA kelas 3 yang bisa menjadi rangking ke-4 di kelasnya.

Jadi apa yang harus ditakutkan bila aku bisa lebih beruntung dari dia dan masih mengkhawatirkan anak-anakku nanti tak bisa bersekolah dengan baik? Pak Ma’mun hanya menjalani hidupnya, dan kesuksesan itu adalah hadiah dari yang di-Atas karena –mungkin – ia tak pernah memberikan jalan bagi para pemuda yang ingin diantarkan ke tempat mesum, katanya mengaku bangga.