Es Krim Dian – Sejak 1950 Alun-alun Bandung

Terakhir ke sana, Mang Dana dan gerobak rodanya udah gak ada. Saat ini memang lokasi tempat ia mangkal udah digeser sama rumah makan Padang yang mengambil ruang sampe ke bibir jalan masuk ke Pasundan. Gak mungkin lagi Mang Dana nangkring di sudut itu. Pasti dia disalahin udah ngehalangin jalan atau nyempitin jalan. Lalu kemana dia sekarang?

 

Es Krim Dian dari 1950 gak beranjak dari pojokan ex Gedung Film Dian, dulu dikenal dengan sebutan Radio City. Waktu TK sering diajak makan es ini, dan sekarang udah punya anak di TK, dan es krim duren plus tape ketan hitam dan roti ini masih bertahan dengan harga Rp 10.000

Mang Dana inget banget waktu pohon beringin di depan Palaguna masih sebuah pohon kecil. Alun-alun pada intinya harus memutar. Sekarang jalannya tertutup satu sisi, dan diyakini oleh sesepuh Bandung akan menutup sebagian energi kota kita ini.

*latepostkamaripisan – with Mowel

View on Path

A Lil’ Trick in the Yellow Truck

We have particularly small places to hang out in Bandung, West Java. We also have larger ones to bring all folks and group of guests. But, when you need to sit with someone to discuss serious stuff or just to straight things up, a coffee shop will do. And I just think, wait a minute. There is a place to do just that. It’s big enough for small talk, and it’s not so big to make a friend or two much closer. It’s Yellow Truck.

I always love great cake. No, Yellow Truck doesn’t have so great cake, but as a coffee shop, it does offer Srikaya toast. What more can I say. It’s just sufficiently serviced. You need to understand the history of coffee shop in Asia to understand the nature of its products and services. Therefore, you won’t get too disappointed when do your little trick in business over a cup of coffee, or a glass of cold iced cappuccino.

Go down the street close to the middle of Wastukancana that interchanges with Pajajaran Street. There is a space filled with motorcycles at the street side. This small magic is just hiding. But, the aroma of freshly roasted coffee can’t hide from passerby.

 

 

 

image

Pasir Badot Family Campsite

Ada satu tempat yang keren banget, jauh dari macet, jauh dari polusi.

Tempat ini deket sama Danau Saguling, ke arah Air Terjun Malela. Tapi jangan takut, kalo Air Terjun atau Curug Malela itu kan jauh banget. Kalo Pasir Badot ini paling setengah jalan. Gak jauh dari Cililin. Tempatnya udah dilengkapi rumah guesthouse yang lumayan banget okenya. Air bersih tersedia melimpah di kamar mandi sharing atau di dalam guesthouse. Buat shalat, ada mesjid yang bersih banget. Listrik buat charging gadget pun tinggal colok. Pokoknya lengkap. Parkir luas di lapangan bola, atau di bawah pohon jati.

Letaknya pas di kaki Bukit Pasir Badot dan Pasir Angin. Tetangga juga gak jauh amat, jadi aman untuk para campers, tanpa harus mengganggu lingkungan.

Pagi-pagi bener-bener magical. Jam 06.00 meluncur ke tepi danau yang jaraknya cuma 1 atau 2 kilometer, dengan jalan kaki atau pake kendaraan. Dari tepi danau, akan terlihat pemandangan sunrise yang spektakuler. Orange yang tak biasa. Coklat bukan, kuning pun bukan. Siluet pemandangan sawah dan kebun jadi foreground yang keren banget.

Sejak TK kami udah sering ke sini. Sampe sekarang, suasana gak terlalu banyak berubah. So, coba keaslian alam di sini.

Membangun negeri
Dari sini
Kampung halaman sendiri – with Devi

View on Path

Rikipik Semur Jengkol – Generasi Kuliner Kreatif Anak Bandung

Done with work, I too felt horribly bored and tired with the excruciating pain behind the neck. This and threads of distressed muscles on my back were mocking my laziness from moving out of this baffling outlines. And so I scooted out to find a good hand, capable of shrinking off the brick-thumping noise along the spine. A barber it was. An hour treatmen and I finally back in shape, although the bruise and the stiff neck will last until the end of the week. My rough calculation it was.

On the same street, across the undying traffic, a cafe stands with the name of something sounds like a man’s name or a street’s. Or a barking creature. Roti Gempol and the Kopi Anjis. Which one is a man’s name? Gog!!

Pokona eta kopi seriusan made me so watchfully awake. Like the spidey in love, I was back on the work I needed to prepare for tomorrow. But, macet teu beak-beak ti tadi. Nya nangkring we jadina di 2nd floor. Rotinya mayan enak, walau ceuk abi mah agak mesti menyembah-nyembah minta susu sing loba. Teu karasa soalna. Cik atuh lah. I love sweetness, coz I’m not too sweet in real life. Komo dina online mah.

Eh, nemu kiripik yang intentionally ngahaja ditulis Rikipik. Here it went…

Rikipik Semur Jengkol.
Hand-cooked chips, since 2013.
Made from the finest cassava, chili and JENGKOL.
Tastebud tinglingly hot. A mouthfulnof bliss.
Cooked in Bandung. You will surely ask for more.
Net weight 200 grams.

This is why Bandung is so interestingly creative. Sok naon deui nu ek di damel rada nyentrik. Tutut tah asupkeun kana cangkir palastik, bere warna nu moronyoy and you seal it.

Come and get it in Roti Gempol and the Kopi Anjis, on Jalan Suryasumantri, Bandung, across Anata Salon, gedengeun Pom BENGSIN. – with Devi at Roti gempol & Kopi Anjis!

View on Path

Mendaki Bukit Pawon – Padalarang

Weekend itu bener-bener bikin boring untuk tetep di rumah. Jaka nelfon. Jadi gak ke Gua Pawon, katanya.

Saling pandang sama bini, otak kami cepet berpikir, “Why not!”. Lalu, kami bergegas menyiapkan tas backpack dan ganti kostum untuk mendaki. Grabbed the bike key, and off we go.

Hari itu langit bener-bener sempurna untuk pendakian di sebuah bukit bernama Bukit Pawon. Bukit ini terkenal dengan gua yang menjadi tempat penemuan jasad berupa fosil manusia purba. Hingga kini, fosil itu masih ada dan bisa dilihat. Walau berupa replika, karena aslinya diamankan. Anyway, perjalanan cuma 20 menit dari Bandung ke arah Padalarang dan terus menuju Citatah.

Curam? Ya, tapi gak terlalu juga. Asik lah buat ngetes stamina yang jarang dipake buat weekend. Makanya, jangan kerja mulu dan lupa outdoor. Otak kita bener-bener tumpul dengan alasan perlu istirahat karena setiap hari otak diperas. No. You don’t say that as a good excuse.

Di atas, kami menikmati hamparan pemandangan yang luas. Biasa aja? Nggak. Keren, bener.

Ada tempat yang namanya Stone Garden. Ya, Taman Batu dimana sebuah hamparan di atas bukit yang penuh dengan bongkahan batu alam yang tajam, persis seperti batu di Belitung. Sedikit mirip. Beberapa diantaranya memang berlubang-lubang seperti bagian dari sebuah proses alam atau pemanasan dari gunung berapi zaman dahulu. Pori-pori besarnya penuh misteri..

Bicara misteri, di sini juga ada kuburan yang disebut Makam Abah Jambrong. Ada saung atau tenda karung di tepinya. Katanya orang-orang yang masih percaya sama animisme suka nyekar di sini.

Dekat dengan makam itu, sebuah batu paling tinggi berdiri. Gila. Nantangin kita buat berdiri di atasnya. And, there we stood like true conquerors.

Sampai di titik tertinggi Stone Garden – with Jaka and Devi at Goa Pawon

View on Path