A Lil’ Trick in the Yellow Truck

We have particularly small places to hang out in Bandung, West Java. We also have larger ones to bring all folks and group of guests. But, when you need to sit with someone to discuss serious stuff or just to straight things up, a coffee shop will do. And I just think, wait a minute. There is a place to do just that. It’s big enough for small talk, and it’s not so big to make a friend or two much closer. It’s Yellow Truck.

I always love great cake. No, Yellow Truck doesn’t have so great cake, but as a coffee shop, it does offer Srikaya toast. What more can I say. It’s just sufficiently serviced. You need to understand the history of coffee shop in Asia to understand the nature of its products and services. Therefore, you won’t get too disappointed when do your little trick in business over a cup of coffee, or a glass of cold iced cappuccino.

Go down the street close to the middle of Wastukancana that interchanges with Pajajaran Street. There is a space filled with motorcycles at the street side. This small magic is just hiding. But, the aroma of freshly roasted coffee can’t hide from passerby.

 

 

 

image

Advertisements

Pasir Badot Family Campsite

Ada satu tempat yang keren banget, jauh dari macet, jauh dari polusi.

Tempat ini deket sama Danau Saguling, ke arah Air Terjun Malela. Tapi jangan takut, kalo Air Terjun atau Curug Malela itu kan jauh banget. Kalo Pasir Badot ini paling setengah jalan. Gak jauh dari Cililin. Tempatnya udah dilengkapi rumah guesthouse yang lumayan banget okenya. Air bersih tersedia melimpah di kamar mandi sharing atau di dalam guesthouse. Buat shalat, ada mesjid yang bersih banget. Listrik buat charging gadget pun tinggal colok. Pokoknya lengkap. Parkir luas di lapangan bola, atau di bawah pohon jati.

Letaknya pas di kaki Bukit Pasir Badot dan Pasir Angin. Tetangga juga gak jauh amat, jadi aman untuk para campers, tanpa harus mengganggu lingkungan.

Pagi-pagi bener-bener magical. Jam 06.00 meluncur ke tepi danau yang jaraknya cuma 1 atau 2 kilometer, dengan jalan kaki atau pake kendaraan. Dari tepi danau, akan terlihat pemandangan sunrise yang spektakuler. Orange yang tak biasa. Coklat bukan, kuning pun bukan. Siluet pemandangan sawah dan kebun jadi foreground yang keren banget.

Sejak TK kami udah sering ke sini. Sampe sekarang, suasana gak terlalu banyak berubah. So, coba keaslian alam di sini.

Membangun negeri
Dari sini
Kampung halaman sendiri – with Devi

View on Path

Menstruasi? Ke Komodo Aja.

Selama ini berseliweran stigma negatif tentang Komodo, kadal besar yang juga disebut ‘buaya darat’ dalam pemahaman zoologi, dan juga orang setempat menyebutnya ‘ora’. Dalam benak kita, Komodo selalunya dikaitkan dengan keganasan dan kagresifan dinosaurus, T-Rex, atau sederhananya anjing galak. Semua itu salah, tapi bukan berarti Komodo itu lucu juga seperti hamster.

Ranger senior di Loh Buaya, Pulau Rinca dan juga di Loh Liang, Pulau Komodo menyebutkan bahwa tak masalah wanita yang sedang menstruasi berada di Taman Nasional Komodo dan melakukan trip kesana.

Memang, selayaknya wanita yang sedang menstruasi melaporkan kondisi spesialnya itu kepada para ranger yang bertugas, agar mereka tahu apa yang harus diperhatikan di dalam kelompok tour-nya. Biasanya wanita menstruasi ditempatkan di tengah-tengah kelompok dan dilarang terlalu penasaran untuk mendekat terlalu akrab dengan seekor komodo yang perutnya keroncongan.

Logikanya, Komodo sudah berada di pulau-pulau ini sejak lama, selama warga desa yang hidup di desa Komodo. Tak mungkin wanita di desa itu melewatkan periode terpenting dalam hidupnya, menstruasi. Buktinya hingga kini mereka (para wanita desa Komodo, bukan kadal besarnya) hidup dan beranak pinak. Perjalanan ke Komodo pun jauh sekali dan juga sangat tidak murah. Bayangkan saat tiba di Labuan Bajo, kota terdekat ke Taman Nasional Komodo, ternyata istri Anda datang bulan, dan didakwa sebagai manusia yang harus menjauh dari salah satu pulau terindah. Pasti liburan itu menjadi episode terburuk, karena Anda mungkin akan pulang dan menghadapi biawak yang kesal sepanjang jalan, melihat suaminya asyik sendiri trekking di Pulau Rinca.

Jadi, Ibu-ibu atau Anda para wanita petualang, jangan takut untuk berada di Taman Nasional Komodo, walau pun saat Anda menstruasi.

Angke