Rebutan Media

Sementara panitia eksekutif ini mondar-mandir cari nomor telfon anak registrasi yang pegang media list, karena ketakutan besok hari acaranya gak ada yang liput, di tempat lain, yang gak pernah worry dengan wartawan mana yang gak hadir, malam serasa seperti malam biasa saja. Enak sekali ya, punya kegiatan yang begitu diminati oleh media manapun. Gak mesti sibuk ngundang media, media dateng sendiri. Sementara di sisi lain, kalo media gak diundang, kursi bis pasti penuh dengan jurig. Dan sebuah cultural trip gak perlu ada jurig.

cm

Dari sekian banyak wartawan yang terdaftar di website ini, sekian banyak itu pula undangan disebar. Tapi tak ayal bahwa sebuah acara semegah Bandung Historical Walk akan begitu magnetizing karena kejadiannya cuma 10 tahun sekali. Sedangkan lihat kawah berwarna putih bisa esok hari atau kemarin-kemarin.

Jadi yang salah sebetulnya siapa?

Lessons learned.

  1. Kalo mau bikin acara, make sure gak ada saingan jenis acra yang sama di tempat lain yang sama waktunya.

Wartawan itu adalah media yang secara naluriah akan mencari berita yang langsung mendapatkan response baik dari pembaca. Sekarang, dengan waktu yang sama, kita sama dengan memaksa mereka untuk memilih satu di antara dua. Maka dari itu, cari waktu sebelum atau sesudah acara besar lainnya saja, dibandingkan bikin di waktu yang sama.

  1. Semakin tinggi nilai sebuah kegiatan, semakin tinggi kemungkinan dibaca. Gimana carana membuat sebuah pemberitaan menjadi tinggi? Cari angle pemberitaan dari berbagai sudut pandang, dan buka sudut pandang Anda.Wawancara seorang anak sekolah, atau seorang pedagang, atau seorang karyawan bank, atau seorang CEO, atau ibu menyusui, dan lain-lain.
  2. Kalau kegiatan akan kurang menarik perhatian media, tarik mereka dengan apa yang media sukai, atau tarik media yang akan menyukai kegiatan Anda. Media kan banyak jenisnya. Media bisa dibagi menurut rubric yang biasa ada di koran atau majalah, seperti politik, ekonomi, bisnis, lifestyle, travel, health, hiburan, so on and so forth.

Tiga Tjeret, Cafedangan Populer di Solo

Ada terminologi baru yang terserap selama seminggu ini di Solo. Cafedangan.

 

image

Awalnya diperkenalkan dengan istilah angkringan, saat aku menyempatkan diri makan malam di Solo. Kala itu, perjalanan panjang solo touring dari Bandung ke Madura dan kembali ke Bandung mengambil jalur balik via selatan Jawa. Pagi hari dari Kawasan Wisata Sunan Ampel di Surabaya, aku sempat mengambil gambar mesjid kecil di Mangkunegaran Solo. Saat itulah seorang jemaah mesjid merekomendasikan makan malam di sebuah angkringan. Angkringan itu warung makan sederhana tapi lengkap dan terhitung sangat murah. Mulai dari yang satu gerobak kecil, hingga memiliki ruang bangunan khusus. Orang Solo biasa menyebut angkringan ini dengan istilah wedangan.

 

image

Berbeda dengan warteg, dimana warteg lebih menyerupai rumah makan namun lebih kecil dan mendapatkan layanan semi swalayan, wedangan lebih mirip gerobak makan dengan tempat duduk lesehan di trotoar atau tempat khusus di meja di tepi gerobaknya, atau ruang khusus ala cafe. Aslinya, aku yakin banget kalau wedangan berawal dari bentuk gerobak, bahkan lebih sederhana lagi. Sekarang, dengan konsep yang tetap dijaga kekhasannya, dan ditopang permodalan lebih kokoh, maka cafe di Solo pun mengadopsi kebiasaan yang asyik ini. Jadilah cafe berkonsep wedangan. Orang di sekitar sini mengeluarkan term baru, cafedangan. Cafe ala wedangan.

 

image

Salah satu cafedangan yang terhitung happening di Solo ialah Tiga Tjeret. Tidak seperti angkringan Wedang Gandul yang asyiknya karena duduk seperti orang-orang di Itali sana yang merapat dalam satu tempat duduk memanjang, cafedangan memberikan tempat duduk dan ruang terpisah dengan meja masing-masing. Bayangkanlah sebuah cafe. Itu saja menurutku bedanya, selain tetap mematok harga yang gak begitu jauh berbeda. Tiga Tjeret punya nuansa cafedangan yang ideal buat wisatawan dan night crawlers di Solo.

 

image

Jenis makanan cafedangan merenggut konsep sama dengan wedangan atau angkringan; sate usus, sate jeroan, sate seafood, sate telur, sate sosis, sate crab meat, sate lobster, tempe bacem, daging-dagingan, jajanan pasar seperti kue pasar dan gorengan tahu, tempe, dan lainnya. Minumannya mulai dari wedangan (mimuman panas) sampai minuman es dan menu minuman lainnya. Asyiknya, sekelompok anak muda yang baru menerjunkan diri di dunia musik komersial cafean menemani setiap hisapan rokok dan nikmat hangat jeruk panas yang menenangkan. Yang satu ini, aku secara pribadi, merekomendasikan.

 

image

Lokasi Tiga Tjeret ada di pusat kota, sangat dekat dengan Kompleks Mangkunegaran. Kalau tidur di kitaran Hotel Novotel atau Ibis Hotel, pakai saja taksi, dan dalàm 5 menit, tempat asyik ini sudah di hadapan. Bawa mobil sendiri? Tanya saja orang sekitar pasti tahu, atau lihat di Waze dan Foursquare, dimana foto-foto netters memenuhi page-nya jauh dibanding cafe lain di Solo. Parkir agak sulit karena setiap orang sepertinya menuju ke sini di malam hari.

 

Hype Luncheon – Makan Siang Bergaya di Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo

Abamowel udah kecapean. Dia langsung melipir ke Ibis.

Masalahnya, aku belum makan siang dan kondisi badan bakal drop kalo makan siang di-skip lagi. So, kaki terus dilanjut ke sebuah gedung heritage yang nampak sedikit mewah. Tentu. Ternyata gedung ini ialah Museum Batik Kuno Danar Hadi. Langsung aku mengarah ke sebuah sudut yang agak ramai dengan x-banner. Bener aja. Sebuah kafe atau restoran.

Saat masuk, suasananya beda. Bukan resto biasa. Yang duduk di sana sepertinya mereka yang sudah sangat nyaman dengan hidup, umur separuh baya atau sudah senior. Gayanya sudah lain sama angkringan. So, aku tanya waiter, “Dimana smoking area, Mas?”

Dia menunjukkan sebuah ruangan terbuka di tepi resto dengan sopan. Di sana semua penat, dan lapar terbayar. Mahal banget. Tapi enak. Iga bakar dan es kelapa muda dalam gelas tinggi benar-benar statement, “ini gak biasa, Mas.”

Mengguyur dahaga ala museum batik Solo. – at Museum Batik Kuno Danar Hadi

View on Path

Tjong A Fie Mansion in Medan, North Sumatra

The first mayor of Medan.
A succesful business man and a philantropist.
image

“There on the earth where I stand I hold the sky, success and glory consists not in what I have gotten, but in what I have given” — Tjong A Fie – at Tjong A Fie mansion with Mowel

See on Path

image

The frames are pictures of Mr. Tjong A Fie’s grand daughter who manages the mansion at the momemt, and grandson who converted to Islam after marrying a woman from Banten. They promote the building as a heritage of Medan and received a support from both local government and also from People of the USA.

image

Es Krim Dian – Sejak 1950 Alun-alun Bandung

Terakhir ke sana, Mang Dana dan gerobak rodanya udah gak ada. Saat ini memang lokasi tempat ia mangkal udah digeser sama rumah makan Padang yang mengambil ruang sampe ke bibir jalan masuk ke Pasundan. Gak mungkin lagi Mang Dana nangkring di sudut itu. Pasti dia disalahin udah ngehalangin jalan atau nyempitin jalan. Lalu kemana dia sekarang?

 

Es Krim Dian dari 1950 gak beranjak dari pojokan ex Gedung Film Dian, dulu dikenal dengan sebutan Radio City. Waktu TK sering diajak makan es ini, dan sekarang udah punya anak di TK, dan es krim duren plus tape ketan hitam dan roti ini masih bertahan dengan harga Rp 10.000

Mang Dana inget banget waktu pohon beringin di depan Palaguna masih sebuah pohon kecil. Alun-alun pada intinya harus memutar. Sekarang jalannya tertutup satu sisi, dan diyakini oleh sesepuh Bandung akan menutup sebagian energi kota kita ini.

*latepostkamaripisan – with Mowel

View on Path

A Lil’ Trick in the Yellow Truck

We have particularly small places to hang out in Bandung, West Java. We also have larger ones to bring all folks and group of guests. But, when you need to sit with someone to discuss serious stuff or just to straight things up, a coffee shop will do. And I just think, wait a minute. There is a place to do just that. It’s big enough for small talk, and it’s not so big to make a friend or two much closer. It’s Yellow Truck.

I always love great cake. No, Yellow Truck doesn’t have so great cake, but as a coffee shop, it does offer Srikaya toast. What more can I say. It’s just sufficiently serviced. You need to understand the history of coffee shop in Asia to understand the nature of its products and services. Therefore, you won’t get too disappointed when do your little trick in business over a cup of coffee, or a glass of cold iced cappuccino.

Go down the street close to the middle of Wastukancana that interchanges with Pajajaran Street. There is a space filled with motorcycles at the street side. This small magic is just hiding. But, the aroma of freshly roasted coffee can’t hide from passerby.

 

 

 

image

Pasir Badot Family Campsite

Ada satu tempat yang keren banget, jauh dari macet, jauh dari polusi.

Tempat ini deket sama Danau Saguling, ke arah Air Terjun Malela. Tapi jangan takut, kalo Air Terjun atau Curug Malela itu kan jauh banget. Kalo Pasir Badot ini paling setengah jalan. Gak jauh dari Cililin. Tempatnya udah dilengkapi rumah guesthouse yang lumayan banget okenya. Air bersih tersedia melimpah di kamar mandi sharing atau di dalam guesthouse. Buat shalat, ada mesjid yang bersih banget. Listrik buat charging gadget pun tinggal colok. Pokoknya lengkap. Parkir luas di lapangan bola, atau di bawah pohon jati.

Letaknya pas di kaki Bukit Pasir Badot dan Pasir Angin. Tetangga juga gak jauh amat, jadi aman untuk para campers, tanpa harus mengganggu lingkungan.

Pagi-pagi bener-bener magical. Jam 06.00 meluncur ke tepi danau yang jaraknya cuma 1 atau 2 kilometer, dengan jalan kaki atau pake kendaraan. Dari tepi danau, akan terlihat pemandangan sunrise yang spektakuler. Orange yang tak biasa. Coklat bukan, kuning pun bukan. Siluet pemandangan sawah dan kebun jadi foreground yang keren banget.

Sejak TK kami udah sering ke sini. Sampe sekarang, suasana gak terlalu banyak berubah. So, coba keaslian alam di sini.

Membangun negeri
Dari sini
Kampung halaman sendiri – with Devi

View on Path

Arafura and Triton Bay Adventure

image

Foto yang mengingatkan perjalanan berhari-hari di atas perahu mengarungi Arafura dan Triton Bay. Dari semua perjalanan yang penuh petualangan, ini yang paling berkesan dan membuat rasa cinta Indonesia timur lebih dari bagian manapun.

Fakfak dan Kaimana bersebelahan dengan Raja Ampat, dan semua hanya kabupaten-kabupaten yang masih sama menawarkan keindahan alam dan sejarah yang penuh riddles yang saling sambung menyambung menjadi misteri tersendiri. Bila saja semua tahu, kebesaran Islam sudah lama menancap di bumi ini, dan terus menyusuri Australia hingga terus ke timur.

Gak ada lagi signal yang ketangkep. Blackberry jadul yang udah melepuh casingnya bertahan karena dalam mode offline. Enak menulis setiap pengalaman sambil angin membuai dari depan. Syukur, berminggu-minggu tanpa sakit di bawah ancaman malaria tropica yang mengerikan.

Bersepeda Motor di Jalan Mulus Pulau Weh

Tulisan ini dipostkan juga di http://www.indonesia.travel, Website Promosi Pariwisata

http://www.indonesia.travel/id/destination/658//article/113/

Di sini, artikel di atas ditampilkan dalam pose asli ;-P

Memacu kendaraan roda dua di sepanjang jalan sepi yang mulus, apalagi diselingi pemandangan hutan tropis dan lautan yang memantulkan sinar matahari memang selalu menjadi keasyikan saat berwisata. Pulau Weh terbentuk oleh semua hal yang indah tadi termasuk keramahan masyarakatnya. Jalan yang mulus, sangatlah rugi bila tak dijajal. Saatnya kini menyusuri jalanan di surga yang tak banyak dikenal.

Dengan pengalaman menyusuri jalanan yang dipandu oleh seorang staff dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, Kemal Fauza, perjalanan mengelilingi pulau ini cukup dalam sehari saja. Bahkan, bila tak berhenti memandu kendaraan,tiga jam saja sudah cukup. Bila Anda beristirahat terlalu asyik di teduhnya kedai kopi Aceh yang menampilkan layar lebar alami berupa pemandangan lautan Selat Malaka dan Pulau Rondo sebagai pulau terdepan di negeri ini, maka empat atau lima jam harus Anda sisihkan dalam 12 jam yang panjang dalam sehari di Pulau Weh. Mungkin karena letak geografisnya, langit pun masih berbinar walau pukul 6 sudah lewat.

Memang pulau ini tidak besar, tapi tidak juga terlalu kecil. Untuk menelusuri pulau dengan mengendarai becak motor Sabang atau Aceh yang menyandingkan pengemudi dengan penumpangnya bertepian, jalan yang begitu mulus rasanya terlalu pasif. Mengemudikan motor sewaan yang dapat diperoleh di Gapang atau di Iboih, dua tempat yang dijadikan peraduan para backpacker mancanegara dan nusantara, merupakan cara terbaik dalam memadukan keindahan yang menenangkan dengan tantangan yang memompa adrenalin.

Di setiap penjuru kota Sabang nampak kampanye ‘Damai Itu Indah’ yang diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat kriminalitas di pulau ini sangat rendah. Tak heran bila masyarakat biasa berkendaraan tanpa khawatir kendaraannya hilang. Kunci biasa tergantung di motornya, dan dengan kebijakan pemerintah daerah yang tidak membolehkan beberapa jenis kendaraan keluar pulau, maka pengawasan kendaraan dalam dan luar pulau sangatlah apik.

Menyewa Motor

Mencari variasi kegiatan lain di luar memancing ikan, snorkeling atau menyelam? Cobalah mengenal pulau ini lebih jauh dengan menelusuri tiap jengkal jalannya yang terukur sepanjang kira-kira 70 km lebih dengan permukaannya yang sangat mulus. Kenakan kacamata hitam Anda, dan menyewa motor pun begitu tak tertahankan.

Di mana-mana ditemui motor skuter-matik, termasuk di Pulau Weh. Dengan kenyamanannya yang tak membuat Anda mengoper gerigi kecepatan mesin saat berkendaraan, maka motor skuter- matik begitu cocok untuk disewa. Suaranya yang halus seperti blender jus buah-buahan membuat motor ini dihargai oleh masyarakat sekitar yang tidak begitu suka suara gaduh dari cerobong emisi kendaraan. Sabang, sebutan lain dari Pulau Weh yang juga memiliki ibukota dengan nama yang sama, memang begitu tepat disebut surga dengan keheningan tapi begitu hangat akan keramahannya.

Setelah menyetujui untuk membayar sekitar Rp 100 ribu per hari (bisa lebih murah bila mahir menawar) untuk penggunaan motor sewa, mintalah persyaratan administrasi menyewa kendaraan dan helm untuk kenyamanan Anda. Walau hampir tak pernah ada razia dan aksi kebut-kebutan, keamanan lebih baik tetap menjadi yang diutamakan.

Isilah motor Anda dengan bahan bakar yang cukup mengantarkan Anda ke tujuan dan kembali. Jangan sampai kehabisan bahan bakar karena di pulau ini hanya ada dua SPBU yang letaknya hampir puluhan kilometer melewati hutan tropis. Namun demikian, di setiap kios yang Anda lewati di tepian jalan, bahan bakar eceran dijual dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 7.500 per liter.

Menelusuri Sekitaran Iboih Hingga Sabang 

Jalan provinsi di Pulau Sabang menghubungkan hampir seluruh bagian terindah di pulau ini. Dari Iboih yang termahsyur, perjalanan bisa diarahkan ke titik terbarat jalan di Indonesia, yaitu ke Monumen Kilometer Nol. Jalan di antara hutan-hutan tropis yang hijau memberikan sensasi lain yang dibumbui tarikan adrenalin saat membesut gas di jalan yang sepi, meliuk-liuk, dan sempit. Alam menyuguhkan sajian flora dan fauna dengan takaran cukup.

Di kawasan ini, monyet pun berlarian di atas permukaan jalan. Apalagi setelah memasuki Monumen Kilometer Nol, lebih banyak monyet lagi yang bermain di tepi hutan di atas batu karang yang menukik curam ke laut lepas. Tak hanya monyet, seekor babi rusa sudah menjadi ‘tuan rumah’ di kawasan ini. Masyarakat setempat memanggilnya ‘Bro’. Babi rusa ini begitu jinak dan kerap mengharapkan kemurahan hati dari pengunjung yang datang.

Sangat disarankan untuk tidak mencoba masuk ke jalan-jalan kecil ke dalam hutan dengan kendaraan sewa Anda, karena pada hakekatnya, pulau ini merupakan pulau terdepan dan menjadi perhatian militer untuk menjaganya dari ancaman pihak luar. Maka tak heran bila penjagaan di pulau ini nampak melibatkan tentara dan polisi bersenjata.

Dari arah Monumen Kilometer Nol ke Iboih akan melewati tikungan tajam dan menurun.  Hati-hatilah saat menukik, karena hal ini dapat menghentikan keasyikan Anda berpetualang di atas motor skuter-matik yang menyenangkan. Tetaplah berkendaraan pada kecepatan yang aman.

Saat menjumpai gerbang pantai Iboih, teruskan motor Anda hingga ujung jalan untuk menemukan surga perairan yang jarang tersentuh.

Lihat Rambu-rambu Lalu Lintas

Setiap persimpangan jalan selalu didahului oleh rambu-rambu penunjuk arah. Hal ini termasuk rambu-rambu dari Iboih ke Gapang, dua buah pantai terbaik yang dipisahkan jarak sekitar 5 kilometer saja. Ke Gapang hanya perlu menelusuri jalan lurus dan mengikuti petunjuk jalan. Memang tak jelas sekali kapan harus belok ke Pantai Gapang, sampai Anda melihat taman segitiga di sebelah kiri Anda dengan tulisan Gapang Beach Resort. Anda bisa lewat jalur resort, atau pun ke jalan di depannya sekitar 50 meter ke arah kiri yang akan membawa Anda ke tepi pantai Gapang yang menghipnotis.

Saat meneruskan perjalanan ke Sabang, jalan di tepi hutan dan pantai akan menjadi hiburan selama kurang lebih 25 menit di atas motor yang meliuk-liuk menyusuri jalanan. Perhatikan kondisi motor Anda. Pastikan tak ada masalah saat mengemudikannya, karena dalam perjalanan ke Sabang dari Gapang, Anda akan melewati tanjakan dan turunan yang panjang dan cukup menantang. Hal ini terutama harus menjadi perhatian Anda saat mencoba rem kendaraan.

Bila Anda tergoda untuk melihat pemandangan yang sering kali mengintip Anda dari celah pohon-pohon tropis yang besar, berhentilah sejenak dan parkirkan motor Anda di tepi jalan yang aman. Di tikungan tajam yang menurun, pemandangan dapat dilihat dalam porsi terbaik. Banyak wisatawan turun sejenak dan mengabadikan panoramanya.

Hati-hatilah bila Anda terlalu dekat ke tepi tebing, karena tidak ada jalur naik bila seseorang jatuh ke dalamnya. Tebing ini pun tak berpagar, jadi jangan terlalu bersemangat dan hilang kendali saat berdiri di tepinya. Monyet pun terkadang merasa berhak mendapatkan penghargaan berupa sedikit makanan di ‘kawasan monyet’ ini. Jangan melakukan kontak mata dengan mereka, karena hal itu dianggapnya sebagai tantangan bagi monyet jantan yang berkuasa.

Batas Kecepatan dan Klakson

Batas kecepatan memang tidak begitu diterapkan secara ketat di semua daerah, tapi secara sadar, Anda tidak ingin merusak liburan Anda dengan permasalahan kecelakaan lalu lintas atau terkait hukum karena Anda terlalu kencang mengemudikan motor sewaan Anda. Jadi walau jalan di pulau ini begitu kosong dan mulus, jagalah kecepatan Anda di batas yang wajar.

Bila perlu, bunyikan klakson atau tanda peringatan suara sesekali saja untuk mengingatkan pengendara lain atas keberadaan Anda.

Klakson diprediksi muncul setelah jaman colonial Belanda. Kata ‘klakson’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu klazo yang berarti menjerit. Di Perancis, klakson dieja klaxon, sedangkan di Romania dan Belgia, beberapa negara Eropa dekat dengan Belanda, mengejanya claxon.

Karena Pulau Weh sedang berkembang dan pembangunan beberapa fasilitas umum masih berjalan, maka sesekali Anda mungkin akan berada di belakang truk besar. Bila asapnya mengganggu Anda, lebih baik Anda berhenti dahulu dan melaju lebih lambat dari truk tersebut. Bila Anda memilih untuk menyusulnya, hati-hatilah.

Lampu depan sudah menjadi aturan umum untuk selalu dinyalakan demi keselamatan dan penegakan hukum yang baik oleh warga negara yang disiplin. Jadi nyalakanlah lampu Anda saat bepergian.

Tiba di Sabang, Anda akan melihat kota kecil yang penuh kehangatan dan suasana bersejarah yang mewarnai kota ini. Dahulu, kapal-kapal perang Belandan dan Jepang berlabuh di pelabuhan alam Sabang. Dalamnya pelabuhan ini jauh lebih dalam dari Temasek/ Singapura atau pun Batam. Jangan heran bila di beberapa tempat di Sabang dan sekitarnya, Anda akan menjumpai beberapa bunker Jepang yang tengah ditata lagi oleh Sabang Heritage Society dan pemda setempat.

Dari atas bukit di Kota Sabang, pemandangan tak terbandingkan akan Anda jumpai. Di sinilah Anda bersyukur bahwa Anda bisa memijakkan kaki di kota terbarat di Indonesia.

Nampak mobil dan motor berlalu lalang jauh di tepi pantai di bawah kaki bukit saat Anda berdiri di Sabang Hill. Gunung tertinggi di Pulau Weh nampak jelas, dan juga pulau-pulau kecil yang mengitarinya. Pulau Rondo pun nampak di kejauhan menandai batas wilayah kedaulatan negara. Menaiki Sabang Hill dapat dengan mudah dilakukan dengan motor Anda yang baik kondisinya atau pun dengan kendaraan roda empat.

Saat berada di Kota Sabang, sisihkan sedikit waktu untuk menyapa warga dengan duduk di tepi jalan di kedai kopi. Tradisi ini biasa dilakukan warga setempat. Waktu di antara pukul 12 hingga 5.00 petang memang sedikit lengang karena toko-toko tutup untuk beristirahat. Selepas itu, mereka akan tumpah di jalan dan beberapa tempat umum lainnya untuk berinteraksi sebagai warga kota.

Menstruasi? Ke Komodo Aja.

Selama ini berseliweran stigma negatif tentang Komodo, kadal besar yang juga disebut ‘buaya darat’ dalam pemahaman zoologi, dan juga orang setempat menyebutnya ‘ora’. Dalam benak kita, Komodo selalunya dikaitkan dengan keganasan dan kagresifan dinosaurus, T-Rex, atau sederhananya anjing galak. Semua itu salah, tapi bukan berarti Komodo itu lucu juga seperti hamster.

Ranger senior di Loh Buaya, Pulau Rinca dan juga di Loh Liang, Pulau Komodo menyebutkan bahwa tak masalah wanita yang sedang menstruasi berada di Taman Nasional Komodo dan melakukan trip kesana.

Memang, selayaknya wanita yang sedang menstruasi melaporkan kondisi spesialnya itu kepada para ranger yang bertugas, agar mereka tahu apa yang harus diperhatikan di dalam kelompok tour-nya. Biasanya wanita menstruasi ditempatkan di tengah-tengah kelompok dan dilarang terlalu penasaran untuk mendekat terlalu akrab dengan seekor komodo yang perutnya keroncongan.

Logikanya, Komodo sudah berada di pulau-pulau ini sejak lama, selama warga desa yang hidup di desa Komodo. Tak mungkin wanita di desa itu melewatkan periode terpenting dalam hidupnya, menstruasi. Buktinya hingga kini mereka (para wanita desa Komodo, bukan kadal besarnya) hidup dan beranak pinak. Perjalanan ke Komodo pun jauh sekali dan juga sangat tidak murah. Bayangkan saat tiba di Labuan Bajo, kota terdekat ke Taman Nasional Komodo, ternyata istri Anda datang bulan, dan didakwa sebagai manusia yang harus menjauh dari salah satu pulau terindah. Pasti liburan itu menjadi episode terburuk, karena Anda mungkin akan pulang dan menghadapi biawak yang kesal sepanjang jalan, melihat suaminya asyik sendiri trekking di Pulau Rinca.

Jadi, Ibu-ibu atau Anda para wanita petualang, jangan takut untuk berada di Taman Nasional Komodo, walau pun saat Anda menstruasi.

Angke