I see me in you

 

We had to wait for 20 hours for him to come out from his mother’s belly. The placenta broke 20 hours before he was naturally let out with the help of DR. Supriyadi Sp.OG. Miky, his older brother, was also handled by Mr. Supriyadi. Very nice and polite doctor.

I always like the way they interact with nature. With people. With me. Calif and Miky are two of a kind, although Calif shows courage and energy. Miky is more like bohemian, and calm, and radiates that manhood. Maybe because I force them to be more independent earlier.

IMG_0235

Their mother and I had to split. But we become good friends now. We have mutual commitment to raise them well. Every day, almost everyday, I take them to school and hug them like I never hug them for years.

I see me in you. You two are my stars.

image

Pasir Badot Family Campsite

Ada satu tempat yang keren banget, jauh dari macet, jauh dari polusi.

Tempat ini deket sama Danau Saguling, ke arah Air Terjun Malela. Tapi jangan takut, kalo Air Terjun atau Curug Malela itu kan jauh banget. Kalo Pasir Badot ini paling setengah jalan. Gak jauh dari Cililin. Tempatnya udah dilengkapi rumah guesthouse yang lumayan banget okenya. Air bersih tersedia melimpah di kamar mandi sharing atau di dalam guesthouse. Buat shalat, ada mesjid yang bersih banget. Listrik buat charging gadget pun tinggal colok. Pokoknya lengkap. Parkir luas di lapangan bola, atau di bawah pohon jati.

Letaknya pas di kaki Bukit Pasir Badot dan Pasir Angin. Tetangga juga gak jauh amat, jadi aman untuk para campers, tanpa harus mengganggu lingkungan.

Pagi-pagi bener-bener magical. Jam 06.00 meluncur ke tepi danau yang jaraknya cuma 1 atau 2 kilometer, dengan jalan kaki atau pake kendaraan. Dari tepi danau, akan terlihat pemandangan sunrise yang spektakuler. Orange yang tak biasa. Coklat bukan, kuning pun bukan. Siluet pemandangan sawah dan kebun jadi foreground yang keren banget.

Sejak TK kami udah sering ke sini. Sampe sekarang, suasana gak terlalu banyak berubah. So, coba keaslian alam di sini.

Membangun negeri
Dari sini
Kampung halaman sendiri – with Devi

View on Path

Camping di Saguling

Sore selalu menjadi ajang motorist untuk bergegas pulang, terutama sekitaran pukul 16.00 sampai 19.00 malam di Bandung. Sabtu ini gak begitu beda, bahkan semakin parah hampir menggiring cita-cita pindah ke pedesaan yang lebih damai. Bukan dadakan juga, bahwa sore ini saya kembali menyusun rangkaian kegiatan untuk diakhiri malamnya di kebun keluarga di Saguling. Saguling itu danau buatan yang masif, tak terstruktur, tak sistematis. Indahnya masih asli seperti gadis gunung. Cantik dari kejauhan. Pengen ngobok kalo deket. Ngobok danau, Nyeeeext.

 

Rikipik Semur Jengkol – Generasi Kuliner Kreatif Anak Bandung

Done with work, I too felt horribly bored and tired with the excruciating pain behind the neck. This and threads of distressed muscles on my back were mocking my laziness from moving out of this baffling outlines. And so I scooted out to find a good hand, capable of shrinking off the brick-thumping noise along the spine. A barber it was. An hour treatmen and I finally back in shape, although the bruise and the stiff neck will last until the end of the week. My rough calculation it was.

On the same street, across the undying traffic, a cafe stands with the name of something sounds like a man’s name or a street’s. Or a barking creature. Roti Gempol and the Kopi Anjis. Which one is a man’s name? Gog!!

Pokona eta kopi seriusan made me so watchfully awake. Like the spidey in love, I was back on the work I needed to prepare for tomorrow. But, macet teu beak-beak ti tadi. Nya nangkring we jadina di 2nd floor. Rotinya mayan enak, walau ceuk abi mah agak mesti menyembah-nyembah minta susu sing loba. Teu karasa soalna. Cik atuh lah. I love sweetness, coz I’m not too sweet in real life. Komo dina online mah.

Eh, nemu kiripik yang intentionally ngahaja ditulis Rikipik. Here it went…

Rikipik Semur Jengkol.
Hand-cooked chips, since 2013.
Made from the finest cassava, chili and JENGKOL.
Tastebud tinglingly hot. A mouthfulnof bliss.
Cooked in Bandung. You will surely ask for more.
Net weight 200 grams.

This is why Bandung is so interestingly creative. Sok naon deui nu ek di damel rada nyentrik. Tutut tah asupkeun kana cangkir palastik, bere warna nu moronyoy and you seal it.

Come and get it in Roti Gempol and the Kopi Anjis, on Jalan Suryasumantri, Bandung, across Anata Salon, gedengeun Pom BENGSIN. – with Devi at Roti gempol & Kopi Anjis!

View on Path

Saguling Sunset

A boy need to know where to spend their quality times with family. Drop the PlayStation and the gadgets, and get that camera!

Join us in photo hunting for kids. We share valuable knowledge and skills with them for only a few hundred thousand Rupiahs. It’s a few dollars. You spend a night in a tent, eat outdoor and learn how to survive the nature in an easy and relaxing way. Know the environment and take photos here and there. That’s a lot to get for a dime.

Admission still opens. Everyday.

#dlajah A new frontier for trekking and cycling tourism. – at Alun-alun cililin

View on Path

Gua Pawon Masih Favorit Gua

Salah satu sisi di Gua Hiro menampakkan warna yang menawan. Tuh kan, kebanyakan becanda sih. Gua Pawon maksudnya. Astaghfirullah! Sisi ini tepat berada di bagian bawah lubang langit yang dipenuhi kelelawar. Di lantainya kalau mau kokoreh (baca: keruk-keruk, korek-korek), kita bisa mengumpulkan guano. Bukan guava ya. Guava itu jambu air. Guano itu bat shit alias kotoran kelelawar. Di Ubud Bali tuh, banyak yang jualin bat shit (kesalahan nulis bed sheet alias seprai kasur. Ada juga yang kesalahan nulis bat cover).

Kumsiwejing!

Anyway, salah satu warga di deket Gua Pawon yang gua protes karena gak negur atau kasih peringatan sama pengunjung yang nembakin kelelawar pake senapan angin mengatakan bahwa kelelawar raksasa yang jumlahnya ribuan itu sudah 5 bulan menghilang. Akibatnya, warga tidak bisa lagi mengumpulkan guano.

Sejak kapan pengunjung itu nembakin kelelawar, Pak?

Lima bulan lalu.

Pantes we, Cuy!

Dan setelah 30 menit berlalu, pengunjung yang membawa senapan angin itu muncul dan masuk ke warung si Bapak yang ngobrol sama gua.

Cuma dapet 7 euy. Kemaren mah dapet 15, Pak.

G*bleg! Ternyata anaknya yang nembakin kelelawar. Pantesan kagak dimarahin, apalagi didenda. Kalo didenda, pasti menta duit ka bapana (minta duit ke bokapnya, which is very very absurd di sisi mereka, dan menyebalkan dari sisi gua yang sayang banget sama lingkungan dan nilai sejarahnya gituh loh).

Gua sama bini cuma bisa saling menatap dan ooooh… (naon deuih). Maksudnya baru menyadari bahwa mereka berasal dari keluarga yang sama deblo-nya (gede-gede blo’on).

Mengkhawatirkan sih kalo gak ada pihak pemerintah yang jagain. Bagus lagi kalo private sector yang gak bisa dibayar pake batu atau jabatan atau pangkat. Pihak yang tanpa syarat. Tanpa ikatan. Salam 11 jari!

(Ditulis di rumah sehari setelah insiden). – with Jaka and Devi at Obyek wisata gua pawon

View on Path