Free Individual Touring

Touring Jalur Bandung – Cirebon – Semarang – Surabaya – Solo – Yogyakarta – Bandung

Sumedang – 2 jam dari Bandung.
Dari Bandung ke Sumedang sebetulnya tidak begitu sulit melihat jarak dan jalur yang biasa dilalui ratusan bahkan ribuan kendaraan. Tapi tunggu. Justru karena ribuan, Saya harus extra hati-hati. Bukan karena jumlahnya, tapi karena kemungkinan berpapasan atau bergandengan dengan pengendara motor yang kurang hati-hati. Justru ancaman ini yang membahayakan, selain kondisi stamina yang bisa saja jadi pengaruh buruk perjalanan jauh.

Di daerah sebelum Cileunyi, kita harus hati-hati, karena kita ada di daerah padat. Banyak sekali pengendara motor yang mengemudikannya tanpa aturan. Biasa, kalau SIM dibuat masal atau bikinnya di tukang cilok, seperti ini lah.

Di daerah Cadas Pangeran sebaiknya focus. Jalan di sini bergelombang dan berliku-liku. Selain berpasir di beberapa bagian, kendaraan dari depan terkadang tidak terduga karena belokan tajam. Jangan memaksakan di kecepatan tinggi walau sudah biasa. Ingat utamakan selamat.

This slideshow requires JavaScript.

Jatiwangi – 9 kilometer dari Sumedang
Dari Kadipaten, mobil biasanya ambil arah kanan untuk potong kompas, ke arah Majalengka. Tapi kalau kita di atas motor, disarankan pakai jalur lurus terus arah Palimanan. Jalan berdebu saat itu. Penggunaan kacamata betul-betul sebuah upaya bijak, karena perjalanan masih dalam tahap awal, dan masih ratusan kilometer di hadapan kita.

Palimanan – 34 kilometer dari Jatiwangi
Daerah Plumbon lagi panen. Berhenti dulu untuk mengambil foto orang yang sedang panen padi. Plumbon memiliki sawah luas dan indah. Hati-hati jangan sampai focus Anda teralihkan karena keindahan pemandangan.

Cirebon – 12 kilometer dari Palimanan
Masuk jalur kota, terus lurus ke arah Pelabuhan atau Kelenteng. BCA baru ada lagi disini. Kalau ATM BNI atau Mandiri agak banyak di kota-kota sebelumnya.

Makan Nasi Jamblang di Pelabuhan. Jamblang sendiri adalah nama sebuah tempat/ desa di antara Majalengka dan Sumedang yang banyak pohon jatinya. Dulu nasi Jamblang dibungkus dengan daun jati yang banyak tumbuh di daerah desa Jamblang.

Warung nasi Jamblang ini lumayan terkenal dan namanya Nasi Jamblang Bu Sumarni. Walau dikelola oleh kakak dari Ibu Sumarni, yaitu Bu As, yang sudah menjalankan usaha ini selama 40 tahun, warung ini tetap sederhana dan hampir terkesan ‘seadanya’. Namun rasanya membuktikan pengalaman puluhan tahun usaha Bu Sumarni ini. Warung ini ada di pojok pintu gerbang di daerah Pelabuhan, dan sudah ada di pojok itu selama 17 tahun.

Losari –  29 kilometer dari Cirebon
Jalan berpindah jalur dan licin penuh pasir krn sedang perbaikan. Hati2 keadaan spt ini bisa jadi petaka saat naik ke permukaan yg lebih tinggi tidak berhati-hati, atau konsentrasi turun, apalagi seudah makan. Biasanya ‘kan ngantuk..

Pejagan –   9 kilometer dari Losari
Jalan pindah-pindah jalur, dan masih perbaikan. Sering terbayang jika ban depan tidak betul posisinya saat ganti jalur dan permukaan perpindahannya agak tajam atau tinggi. Pasti jatuh. Maka hati-hatilah bila menemukan jalan yang berbeda permukaannya. Disinilah sering diberitakan orang jatuh dan kelindes. Bahaya banget!!

Brebes –  18 kilometer dari Pejagan
Macet panjang di daerah ini sebenernya karena bottle neck. Panjangnya macet bisa sangat panjang krn di atas jalur ini, truk tronton dan semacamnya meluncur menuju Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kota Brebes sebetulnya mengasyikan, tapi memang jalur sebelumnya nampak membuat gusar.

Tegal –  9 kilometer dari Brebes
Kotanya tenang dan bersih juga nampak sudah maju sekali dibanding 5 tahun terakhir ke kota ini.

Pemalang –  27 kilometer dari Tegal

TIP #1: Jangan terpancing oleh orang setempat yg sepertinya ngetes kecepatan motor kita.

Ingat, siapapun orang itu, dia hanya mungkin kebut-kebutan beberapa kilometer saja di daerah dia, dan dibandingkan perjalanan kita, jalan mesti ditempuh sekitar 1.400 kiloan. Jadi biarkan dia bahagia dg ‘kemenangan’ lokalnya.

Konsisten saja di kecepatan aman. Anggap dia utusan iblis yang urusan hidup dan matinya sudah gak penting. Beda ‘kan sama kita?

Pekalongan – 31 kilometer dari Pemalang
Kota Pekalongan termasyur karena batiknya yg super keren. Jalur touring melewati beberapa plang batik yg mengingatkan kita tentang kebesaran nama itu.

TIP #2: Jangan mudah terpancing utk menyusul dari kanan sementara di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur,  jalur mobil dan motor dipisahkan. Motor tempatnya di sebelah kiri dan sering kali kosong. Tetap harus hati-hati dengan kecepatan tinggi di jalur ini, krn banyak penduduk suka nongol tiba-tiba dengan motor kreditannya.  Biasanya mereka ngeloyor begitu saja, keluar dari gang depan rumah mereka.

Batang –  5 kilometer dari Pekalongan
Perbaikan jalan dan peningkatan kualitas jalan terkadang membuat beberapa jalur dibina dengan pasir keras dan tanah yang dipadatkan. Motor terkadang harus masuk ke jalur itu, agar tdk terjebak antrean panjang. Hati-hati saat masuk jalur berpasir krn keadaan bisa menjadi sangat tidak stabil.

Saya biasanya berdiri di atas pedal motor sambil merapatkan paha ke tangki bahan bakar saat masuk jalur berpasir atau tanah padat. Lumayan lebih stabil dan maneuver motor lebih ringan. Tapi ini belum tentu cocok dengan gaya teman-teman lainnya.

Weleri –  45 kilometer dari Batang
Pantura sudah terkenal dengan bis yg dikemudikan secara ugal-ugalan di jalur ini. Anda tidak bisa menawar jalan saat itu terjadi di depan Anda. Jadi sebaiknya kurangi kecepatan, kontrol keseimbangan, dan cari tempat menghindar dari bis yg ada di jalur yg seharusnya jalur Anda.

Bagi mereka, Anda adalah penghalang yang bisa ditabrak dan diganti oleh asuransi dan perusahaan bis. Jadi jangan dilawan, walau tetap harus ada usaha yang sedikit advokatif kepada para pengusaha bis antara kota agar lebih sopan.

Kendal –  17 kilometer dari Waleri
Jalan berkelok-kelok dan naik serta turun bukit dg pemisah jalan di beberapa bagian tempat. Hampir dekat ke Semarang, jalan dihiasi traffic calmer berupa polisi tidur halus 4 hingga 5 baris. Bikin bete juga karena goncangannya rada kuat.

Semarang –  12 kilometer dari Kendal
Sama seperti di kota besar manapun, bahwa sore hari di jalur keluar masuk kota, pastilah dijejali kemacetan yg parah.

Tidur di hotel sederhana dan terkesan agak ‘miring’ citranya. Backpacker bule sering nginep di sini. Nama hotel itu:
Oewa Asia, hotel yg sdh berdiri lebih dari 1 abad. Maknanya, kamar-kamar tua dan furniture tua. Terkadang tidak terlihat diurus dengan baik. Pintu tinggi dan TV dikerangkeng sudah biasa. Memang agak spooky kalau tidur sendiri.

Dulu milik seorang Arab merchant, tapi sekarang dibeli pengusaha Chinese (Ir. R. Bg. Stefanus Ariyanta P).
Alamatnya di daerah Kota Lama, tepatnya di  Jl. Kol. Soegiono 12 Semarang. Phone: 024 3542547.

Harga mulai dari  IDR 55rb-120rb. Kamarnya luar biasa standard, bahkan bagi ukuran orang kita, gak ada bagus-bagusnya dan terkadang lebih nyaman kamar tidur kita. Tapi bule pada seneng2 aja.

One thought on “Free Individual Touring

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s