24 Jam di Surabaya

Lepas dari pesona Kota Lama, mesin 200 cc dibesut melewati jalan mulus Semarang – Surabaya. Rembang menyuguhkan ladang garam berupa petakan tambak yang diberi ornamen baling-baling penguras air. Lamongan dilewati ketimbang jalur pantura, karena selisih jarak bisa mencapai 10 kilometer. Setelah mencicipi Soto Lamongan yang tenar dan melewati kota Gresik yang asri, Surabaya mulai nampak di depan. Kawasan industri pengepakan dan gudang barang nampak padat, dan jalan lurus terus ditelusuri hingga kawasan Cargo di mulut daerah Jembatan Suramadu.

Bermalam di Kawasan Wisata Sunan Ampel memberi pelajaran sejarah yang mencengangkan, terutama disana terdapat makam kakek guru ngajiku selama ini. Pasar Ampel yang riuh rendah sepanjang malam menyajikan cakrawala kehidupan masyarakat campuran Arab dan Cina serta Jawa dalam satu jalur hidup, di depan Hotel Kemajuan. Hanyadengan Rp 45,000 semalam, hotel ini menyediakan kasur dan kipas angin serta kamar mandi sharing yang lumayan untuk meluruskan tulang belakang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s